JAKARTA, WESTART.ID β Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh kritik tajam warganet terkait pelaksanaan dan mutu hidangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebuah unggahan yang memperlihatkan menu berupa sosis olahan murah dengan balutan tepung panir goreng yang sangat tebal viral dan memicu perdebatan luas mengenai pemenuhan standar gizi anak sekolah.
Sorotan tersebut bermula dari unggahan akun media sosial @umma_shafeeya yang kemudian diunggah ulang oleh berbagai kanal komunitas digital, salah satunya akun @surakartakita. Dalam foto-foto yang dibagikan, tampak sebuah nampan makan berbahan stainless steel bersekat lima yang menyajikan menu berupa sepotong sosis goreng berbalut tepung, sepotong kecil tempe goreng, dua iris tipis mentimun, satu kotak kecil susu UHT, serta satu saset saus kemasan tanpa disertai nasi.

Netizen tersebut secara terbuka membelah gorengan tersebut untuk menunjukkan perbandingan antara lapisan tepung panir dan isian daging olahan di dalamnya. Terlihat jelas bahwa porsi sosis berwarna merah muda berukuran sangat kecil, sementara lapisan adonan tepung terigu dan panir yang menyelimutinya sangat tebal dan berminyak.
βAnggaran pendidikan dipangkas cuma buat ginian. Mending pakai buat penanggulangan karhutla deh. Anak-anak gak akan kelaparan tanpa MBG, kita orang tua masih bisa masak yang bergizi buat anak kita. Tolong jelaskan ini letak bergizinya di mana, sosis pasaran murah dibalut roti dan tepung panir, digoreng pulak,β tulis akun tersebut dalam keluhannya.

Kritik Soal Ultra-Processed Food dan Kualitas Gizi
Kritik tersebut langsung menyulut reaksi keras dari para pegiat gizi dan wali murid lainnya. Pasalnya, sosis tergolong ke dalam makanan ultra-proses (ultra-processed food) yang umumnya tinggi natrium, lemak jenuh, dan pengawet, sehingga bertolak belakang dengan misi utama program MBG yang digadang-gadang untuk menekan angka stunting dan mencukupi kebutuhan mikronutrien anak sekolah.
Sejumlah warganet menyayangkan ketiadaan sumber protein hewani segar berkualitas seperti telur ayam, daging ikan, atau daging sapi segar, serta minimnya sayur-sayuran hijau berserat tinggi dalam sajian tersebut.

Pengunggah Mengaku Dihubungi Petugas dan Diminta Hapus Konten
Polemik kian meruncing setelah pemilik akun mengabarkan bahwa unggahan kritik tersebut akhirnya terpaksa dihapus. Ia mengungkapkan bahwa suaminya yang tengah bekerja berulang kali dihubungi melalui sambungan telepon oleh oknum pegawai Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) agar konten tersebut segera diturunkan dari ruang publik.
βUdah disuruh hapus sama suamiku nih. Kasihan dia lagi kerja diteleponin pegawai SPPG suruh hapus postingan per-MBG-an ini. Miris banget ya, kritik dikit kita dibungkam,β ungkapnya dalam tangkapan layar susulan yang tersebar di lini masa.
Kejadian ini memicu desakan publik kepada Badan Gizi Nasional (BGN) serta instansi pengawas terkait agar lebih memperketat pengawasan terhadap vendor dan dapur katering penyedia makanan. Transparansi alokasi anggaran per porsi serta keterbukaan terhadap kritik dan saran dinilai mutlak diperlukan agar program strategis pemenuhan gizi anak bangsa tidak disalahgunakan menjadi ajang komersialisasi hidangan rendah mutu.
π¬ Komentar Pembaca (0)
Tulis Tanggapan Anda
Opini Anda akan ditinjau oleh tim redaksi sebelum ditampilkan ke publik.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!